Ada satu kalimat yang paling sering muncul di kepala selama menjadi freelancer yang bekerja dari rumah.
"Sedikit lagi selesai."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, justru kalimat itulah yang sering membuatku lupa waktu. Bayangkan, saat mengerjakan permintaan penulisan artikel, aku selalu mengatakan dalam hati jika sedikit lagi selesai beberapa paragraf, sedikit lagi tinggal mengedit artikel, sedikit lagi aku harus membalas revisi dari klien dan sedikit lagi artikel siap diunggah ke blog. Tanpa kusadari, kata "sedikit lagi" sering berubah menjadi dua atau tiga jam tambahan di depan laptop.
Sebagai freelancer, bekerja dari rumah memberiku banyak keuntungan. Selain aku bisa mengatur jam kerja sendiri, aku juga bisa tetap mendampingi anak yang kini berusia lima tahun, bahkan sekaligus terus menjalani profesi yang kucintai sebagai penulis. Namun, fleksibilitas itu juga memiliki sisi lain yang baru kusadari beberapa tahun belakangan.
Aku tidak punya jam pulang, tidak ada batas antara ruang kerja dan ruang keluarga karena laptop bisa terbuka sejak pagi, lalu kembali menyala setelah anak tidur malam.
Dan aku ... sering kali lupa untuk berhenti jika sudah berada di depan laptop dan smartphone. Apalagi jika sudah dikejar-kejar deadline.
Berawal Dari Hal Sepele yang Sering Disepelein.
Hari itu adalah hari Sabtu, salah satu hari tersibuk dalam seminggu.
Di buku catatan khusus ku sudah ada tiga artikel yang harus selesai, ditambah satu naskah promosi yang harus dikirim sebelum pukul lima sore. Klien sudah mengingatkan bahwa materi tersebut akan langsung dipublikasikan, sehingga tidak boleh terlambat. Aku menarik napas panjang.
Secangkir teh hangat menemani pagi. Dan, laptop bersamaan smartphone sudah menyala. Jemari mulai menari di atas keyboard.
Suasana rumah hari itu cukup tenang. Putra ku sedang bermain mobil-mobilan di ruang tamu, sesekali memanggil agar aku melihat ke arahnya yang tampaknya berhasil membuat rumah-rumahan dari potongan kertas, hasil kreasinya kepadaku.
"Mama, lihat! Adek bikin rumah-rumahan."
Aku hanya menjawab “Adek hebat” dan tersenyum tanpa mengalihkan pandangan terlalu lama dari layar.
Beberapa menit kemudian, notifikasi email masuk. Pesan singkat tentang tulisan yang harus segera direvisi.
Belum selesai mengerjakan revisi itu, pesan lain masuk melalui WhatsApp grup khusus content creator, jika peserta yang sudah ditambahkan ke grup harus segera absen di spreadsheets dan membuat story line. Disusul panggilan telepon singkat.
Hari itu benar-benar terasa seperti perlombaan dengan waktu. Jari yang terus mengetik, mata yang terus dipaksa membaca untuk revisi. Hingga tanpa sadar, sudah hampir tiga jam mataku tidak benar-benar beristirahat.
Awalnya, aku hanya merasa kelopak mata sedikit berat. Karena kupikir akibat terlalu lama fokus pada layar, membuat mata mengantuk, aku pun berdiri sebentar untuk mencuci muka lalu mengambil air minum, kemudian kembali duduk.
Namun, rasa tidak nyaman ternyata itu tidak ikut menghilang. Beberapa menit kemudian, mataku mulai terasa sepet. Refleks aku mengusapnya pelan, sambil bergumam "Ah, mungkin cuma capek.” Aku pun kembali melanjutkan pekerjaan.
Layar laptop yang sejak tadi terasa biasa saja mulai tampak terlalu terang. Huruf-huruf masih terbaca jelas, tetapi perlahan ada sensasi perih yang membuatku lebih sering berkedip. Aku mengecilkan tingkat kecerahan layar, namun tetap saja belum ada perubahan. Dan, yang paling mengganggu justru datang menjelang siang. Mataku terasa begitu lelah.
Kali ini bukan sekadar mengantuk, tetapi seperti kehilangan kenyamanan untuk terus menatap layar. Fokus seketika buyar. Aku membaca paragraf yang sama berulang kali. Bahkan, beberapa kesalahan pengetikan lolos begitu saja karena konsentrasiku mulai menurun. Ironisnya, saat itulah pekerjaan justru sedang menumpuk.
Sebagai freelancer, aku tahu setiap tenggat waktu adalah soal kepercayaan. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu bukan hanya tentang profesionalisme, tetapi juga tentang menjaga hubungan baik dengan klien. Karena itu, aku memilih bertahan. Meskipun, tubuh sebenarnya sudah memberikan sinyal agar aku berhenti sejenak.
Bersyukurnya sebelum sore, semua pekerjaan akhirnya selesai. Aku menghela napas lega dan segera menutup laptop. Namun, tepat saat itu, anakku datang membawa topi kecil berwarna abu-abu dengan motif bergambar mobilan.
"Mama ... jadi kan kita lihat matahari terbenam?"
Seketika aku langsung terdiam, hampir lupa. Sejak beberapa hari sebelumnya aku memang berjanji akan mengajaknya pergi ke lapangan dekat rumah sekadar menikmati matahari terbenam sambil menyaksikan ibu-ibu bermain voli. Baginya, itu adalah petualangan kecil yang sudah ditunggu.
Aku pun segera bersiap. Dalam hati, aku berharap sore itu menjadi penutup yang manis setelah hari yang melelahkan. Namun, sesampainya di sana, rasa tidak nyaman pada mataku justru kembali muncul. Saat itu, angin sore yang bertiup cukup kencang membuat mata terasa semakin kering. Aku berkedip lebih sering dari biasanya. Ketika mencoba memotret anakku yang sedang tertawa mengejar teman sebayanya, mataku kembali terasa perih hingga aku harus menurunkan ponsel beberapa saat.
Saat itulah aku mulai berpikir, mungkin ini bukan sekadar rasa lelah biasa. Mungkin selama ini aku terlalu sering mengabaikan sinyal kecil yang diberikan oleh mataku sendiri.
Senja perlahan turun. Langit berubah jingga, lalu semburat keemasan tampak menggantung di langit Bengkulu. Pemandangan yang sejak beberapa hari lalu kubayangkan akhirnya benar-benar ada di depan mata.
Anakku berlari kecil di pinggir lapangan. Tawa renyahnya bercampur dengan suara teriakan ibu-ibu yang bermain voli dan anak-anak lainnya silih berganti. Sesekali ia memanggilku agar melihat ke arahnya.
Aku ingin menikmati semuanya. Aku ingin mengabadikan setiap detik. Namun, rasa tidak nyaman pada mata kembali mengganggu.
Beberapa kali aku harus memejamkan mata sejenak karena terasaperih. Saat membuka kamera ponsel untuk mengambil foto, pandanganku terasa kurang nyaman sehingga aku berkedip berulang kali. Angin sore membuat sensasi kering itu semakin terasa.
Dalam perjalanan pulang, pikiranku terus dipenuhi satu pertanyaan. Mengapa akhir-akhir ini mataku begitu mudah lelah?
Akhirnya Menemukan Solusi Untuk Mata Sepele yang Sering Disepelein.
Malam itu, setelah rumah kembali tenang dan anak terlelap, aku mulai mencari informasi mengenai penyebab mata yang terasa sepet, perih, dan lelah setelah bekerja dalam waktu lama di depan laptop.
Barulah aku memahami bahwa terlalu lama menatap layar digital dapat membuat frekuensi berkedip berkurang. Padahal, berkedip membantu menyebarkan lapisan air mata agar permukaan mata tetap lembap. Ketika kelembapan mata berkurang, muncullah berbagai gejala yang selama ini sering kuanggap sebagai rasa lelah biasa.
Saat membaca berbagai informasi tersebut, aku seperti sedang membaca kebiasaanku sendiri. Pagi membuka laptop. Siang berpindah ke ponsel. Sorenya kembali menatap layar. Malam hari pun masih harus mengecek email.
Sebagai freelancer yang bekerja dari rumah, layar digital memang sudah menjadi bagian dari rutinitasku. Hampir semua pekerjaan dilakukan melalui laptop, mulai dari riset, menulis, mengedit, hingga berkomunikasi dengan klien.
Tidak mungkin aku berhenti bekerja. Yang bisa kulakukan adalah belajar bekerja dengan lebih bijak. Dan, sejak saat itu aku mulai membuat perubahan kecil yang ternyata berdampak besar.
Aku memasang pengingat untuk berhenti sejenak setiap beberapa puluh menit. Saat alarm berbunyi, aku mengalihkan pandangan ke pepohonan di luar rumah atau melihat langit selama beberapa saat agar mata tidak terus-menerus fokus pada jarak yang sama.
Aku juga mulai lebih sadar untuk berkedip saat sedang menulis. Mungkin terdengar sederhana, tetapi kebiasaan ini justru sering terlupakan ketika sedang mengejar tenggat.
Selain itu, aku mengatur pencahayaan layar agar lebih nyaman, memastikan ruangan memiliki penerangan yang cukup, memperbanyak minum air putih, dan berusaha tidak membawa pekerjaan hingga larut malam jika memang tidak mendesak.
Perubahan-perubahan kecil itu membuatku menyadari bahwa produktivitas bukan hanya tentang bekerja lebih lama, tetapi juga tentang menjaga tubuh tetap nyaman selama bekerja.
Di tengah upaya memperbaiki kebiasaan tersebut, aku teringat pada satu produk yang sebenarnya sudah cukup lama aku kenal. Beberapa tahun lalu, ketika Insto Dry Eyes masih menggunakan kemasan berwarna hijau, aku pernah menggunakannya saat mata terasa kering setelah beraktivitas cukup lama di depan layar. Yang paling kuingat adalah sensasi nyaman yang kurasakan setelah meneteskannya sesuai petunjuk penggunaan. Sejak saat itu, Insto Dry Eyes menjadi salah satu produk yang kusimpan untuk membantu meredakan gejala mata kering ketika diperlukan.
Kini, Insto Dry Eyes hadir dengan kemasan baru berwarna biru yang tampil lebih segar dan mudah dikenali. Meski tampilannya berubah, kebiasaan baik yang kupelajari tetap sama, yakni aku tidak hanya mengandalkan tetes mata, tetapi juga berusaha menjaga kesehatan mata melalui pola kerja yang lebih seimbang. Bagiku, kedua hal tersebut saling melengkapi.
Menjaga kebiasaan baik membantu mencegah mata bekerja terlalu keras, sementara ketika gejala mata kering mulai muncul, Insto Dry Eyes dapat membantu meredakannya sesuai petunjuk penggunaan.
Sejak itu, mejaku mengalami sedikit perubahan. Selain laptop, buku catatan, dan secangkir air putih, kini ada pengingat kecil yang kutempel.
“Jangan lupa istirahatkan mata."
Kalimat sederhana itu sering kali menjadi penyelamat di tengah padatnya pekerjaan.
Ketika tenggat datang bertubi-tubi, aku memang masih berusaha memberikan hasil terbaik kepada setiap klien. Namun, kini aku tidak lagi memaksakan diri bekerja tanpa jeda hanya demi menyelesaikan satu artikel lebih cepat.
Aku belajar bahwa beberapa menit untuk mengistirahatkan mata bukanlah waktu yang terbuang. Sebaliknya, jeda itu justru membuat pikiranku lebih segar, konsentrasi kembali fokus, dan hasil tulisan terasa lebih baik. Dan yang paling membahagiakan, perubahan itu juga membuatku lebih menikmati waktu bersama keluarga.
Kini ketika anakku mengajakku bermain, berjalan sore, atau sekadar membaca buku cerita sebelum tidur, aku tidak lagi merasakan mata cepat lelah. Aku bisa lebih fokus mendengarkan ceritanya, dan lebih bebas mengabadikan senyum-senyum kecil yang begitu berharga.
Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa gejala mata sepet, perih, dan lelah memang terlihat sederhana. Namun jika terus diabaikan, gejala tersebut dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan, produktivitas, bahkan momen-momen berharga bersama orang-orang yang kita cintai.
Karena itu, jika pekerjaanmu juga mengharuskanmu berjam-jam berada di depan laptop atau gadget, jangan menunggu sampai rasa tidak nyaman semakin mengganggu. Mulailah dengan kebiasaan sederhana seperti memberi waktu istirahat pada mata, menjaga posisi dan pencahayaan layar, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta menggunakan solusi yang tepat ketika gejala mata kering mulai terasa.
Aku percaya, seorang freelancer tidak hanya dinilai dari seberapa cepat ia menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kualitas hasil kerja dalam jangka panjang. Dan semua itu dimulai dari tubuh yang sehat, termasuk mata.
Jadi, mulai hari ini, jangan hanya mengejar tenggat waktu. Luangkan juga waktu untuk memperhatikan kesehatan matamu. Karena setiap karya terbaik lahir dari mata yang mampu melihat dengan nyaman, pikiran yang tetap fokus, dan tubuh yang terawat.
Itulah pelajaran yang tidak akan pernah aku lupakan. Semoga pengalamanku ini juga bisa menjadi pengingat untukmu bahwa #MataSePeLeJanganSepelein. Mari terus berkarya dengan lebih nyaman bersama #InstoDryEyes dan semangat #BebasMataKering, agar setiap deadline bisa diselesaikan tanpa harus mengorbankan kesehatan mata.























